Logo
images

Kajian Ngaji Jumat Wage edisi Februari

Jumat, 2 Februari 2023

Ngaji Jumat Wage (2/2) menjadi agenda rutin MTsN 1 Pati. Bersama Kyai Ahmad Asnawi, ngaji berlangsung khidmat di indoor madrasah. Seluruh siswa, guru, dan pegawai penuh antusias menyimak kajian yang disampaikan oleh salah satu Kyai kharismatik dari Kota Kudus ini.

Pada pertemuan di awal bulan Februari ini, Kyai Asnawi menjelaskan tentang penyempurnaan penciptaan manusia yang diisi dengan akal dan nafsu.

Manusia akan menjadi sempurna sebagai hamba Allah maka dibikin komplit tidak seperti makhluk-makhluk yang lain.

Lebih detail, Kyai Asnawi menerangkan bahwa pada suatu ketika akal dan nafsu dites oleh Allah untuk menghadap kepada-Nya.

Allah berfirman, “Ya Aklu, man ana wa man anta?” (Wahai akal, siapa kamu dan siapa aku?).

Lalu, akal menjawab “Anta Rabbi wa ana abduka” (Engkau Tuhanku dan saya hamba-Mu).

Setelah akal lolos dari tes, giliran nafsu yang dipanggil oleh Allah.

“Ya Nafsu, ta’ali!” (Wahai nafsu, kemarilah!). Ia diam saja tidak mau menghadap.

Allah bertanya, “Ya Nafsu, man Ana wa man anti?” (Wahai Nafsu, siapa kamu dan siapa aku?). Nafsupun menjawab, “Anta wa Anta, ana wa ana” (Engkau adalah engkau, aku dan aku).

Ketidakpahaman nafsu tentang Allah menjadikan Allah murka kemudian mengutus Malaikat Adzab untuk menyeret nafsu ke dalam neraka dan membakarnya selama 100 tahun. Setelah keluar dari neraka, Allah pun memberikan pertanyaan yang sama, akan tetapi tetap dengan kesombongannya nafsu menjawab dengan hal serupa.

Akhirnya, Allah kembali memasukkan nafsu ke dalam neraka yang penuh dengan rasa lapar selama 100 tahun.

Setelah nafsu dibikin lapar selama 100 tahun, Allah memberikan pertanyaan yang sama, nafsu pun sadar dan menjawab “Anta Rabbi wa ana abduka” (Engkau Tuhanku dan saya adalah hamba-Mu). Ternyata yang mampu menyadarkan kejahatan nafsu adalah rasa lapar.

Berdasarkan pemaparannya, Kyai Asnawi menegaskan bahwa yang menghancurkan manusia bukan orang lain, juga bukan semata-mata pengaruh dari syaitan, melainkan nafsu yang ada pada dalam diri manusia itu sendiri.

Allah menciptakan Malaikat hanya diberi akal tetapi tidak diberi nafsu karena semata-mata untuk menyembah Allah. Begitu juga, dengan hewan hanya diberi nafsu saja. Sedangkan manusia diberi akal dan nafsu.

Manusia jika dominan akalnya maka akan menyerupai malaikat dan jika lebih dominan nafsu maka akan seperti hewan. Manusia selama masih menggunakan akalnya, maka ia akan tau siapa Tuhan-Nya. Manusia yang sedang dikuasai oleh nafsu, maka tidak akan pernah datang ketika dipanggil Tuhan-Nya.

Dari sinilah, Allah memperlihatkan perjalanan manusia yang diisi akal dan nafsu agar mengetahui hikmah bahwa di dalam diri manusia terdapat akal dan nafsu, dan dapat mengendalikan keduanya.

Di akhir kajian, Kyai Asnawi berharap agar seluruh warga madrasah jangan sampai dikuasai nafsunya karena bisa berakibat tidak kenal diri sendiri apalagi Tuhan-Nya.


TAG

Dipost Oleh SIM-MTsN 1 Pati

Tidak peduli seberapa menarik atau signifikan kehidupan seseorang, biografi yang ditulis dengan buruk akan membuatnya tampak seperti mendengkur. Di sisi lain, seorang penulis biografi yang baik dapat menarik wawasan dari kehidupan biasa-karena mereka menyadari bahwa bahkan kehidupan yang paling menarik adalah kehidupan biasa! Lagi pula, biografi tidak seharusnya menjadi kumpulan fakta yang dikumpulkan dalam urutan kronologis; itu interpretasi penulis biografi tentang bagaimana kehidupan itu berbeda dan penting.

Tinggalkan Komentar